Selasa, 08 September 2009

KERETA API UAP AMBARAWA JAWA TENGAH INDONESIA


Sejarah perkeretaapian di Semarang

Kehadiran Kereta Api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA di Desa Kemijen, Jum’at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet Van Den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsh Indische Spoorweg Maatschappij” (NV.NISM) yang di pimpin oleh Ir. J.P.De Bordes. Dari kemijen menuju desa Tanggung (25 Km) dengan lebar sepur 1,435mm. Radius jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV.NISM membangun jalan KA antara Kemijen Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Pebruari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang – Surakarta (110Km), akhirnya mendorong investor untuk membangun jalan KA didaerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara tahun 1864-1900 tumbuh dengan pesat. Pada tahun 1867 panjang jalan KA baru dibangun 25Km, tahun 1870 menjadi 110Km, tahun 1880 mencapai 405Km, tahun 1890 menjadi 1.427Km dan tahun 1900 menjadi 3.338Km.

Jenis jalan rel KA di Indonesia semula dibedakan dengan lebar sepur 1.067mm, 750mm (di Aceh) dan 600mm dibeberapa lintas cabang dan tram Kota. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1943) jalan rel sepanjang 473 km dibongkar dan dialihkan ke Thailand, sedangkan jalan KA baru yang dibangun sepanjang 83 km antara Bayah Cikara dan 220km antara Muaro Pekanbaru.

Ironisnya dengan teknologi seadanya jalan KA Muaro Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang memperkerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintas rawa-rawa, perbukitan serta sungai yang deras arusnya, banyak menelan korban jiwa yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro Pekanbaru.

Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam “Angkatan Moeda Kereta Api” (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa besejarah yang terjadi pada tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada ditangan bangsa Indonesia.orang Jepang tidak diperkenankan lagi campur tangan urusan perkeretaapian di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya “Djawatan Kereta Api Republik Indonesia” (DKARI).

Tahun 1864 Pertama kali dibangun Jalan Rel sepanjang 25km antara Kemijen – Tanggung oleh pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1864 – 1945 Staat Spoorwegen (SS) Verenigde Spoorwegenbedrifj (VS) Deli Spoorwegen Maatschappij (DSM)

Tahun 1945 – 1950 DKA

Tahun 1950 – 1963 DKA RI

Tahun 1963 – 1971 PNKA

Tahun 1971 – 1991 PJKA

Tahun 1991 – 1998 PERUMKA

Tahun 1998 ……… PT. KERETA API (PERSERO)

Stasiun Ambarawa

Ambarawa sejak jaman Hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan Stasiun Kereta Api, guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang.

Maka pada tanggal, 21 Mei 1873 dibangunlah Stasiun Kereta Api Ambarawa dengan luas tanah 127.500m2. Masa kejayaan stasiun Ambarawa yang lebih dikenal dengan sebutan Willem I, dihentikan pengoperasianya sebagai stasiun kereta api dengan jurusan Ambarawa – Kedungjati – Semarang dan tahun 1976 untuk lintasan Ambarawa secang – Magelang juga Ambarawa – Parakan Temanggung.

Dengan ditutupnya Stasiun KA Ambarawa, maka pada tanggal 08 Pebruari 1976. Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksplotasi Soeharso memutuskan Stasiun Ambarawa dijadikan Musium Kereta Api dengan mengumpulkan 21 buah lokomotip yang pernah andil dalam pertempuran khususnya mengangkut tentara indonesia.

Menyusuri Lereng Pegunungan

Selain Musium Stasiun Ambarawa juga memiliki lokomotip tua yang masih sanggup untuk mendaki pegunungan dengan kereta bergerigi, salah satu kereta api bergerigi di indonesia dengan gagahnya yang mampu berjalan dalam kemiringan 60 derajat menuju Stasiun Bedono yang berjarak 9 km ditempuh dalam waktu 1 jam dan berkapasitas 90 orang. Wisatawan bisa menikmati panorama disepanjang perjalanan yang sangat mempesona. Gunung Ungaran, Gunung Merbabu yang menjulang tinggi serta hamparan rawa pening di bagian bawah, merupakan pemandangan yang kontras serta mengasyikkan.


INI MERUPAKAN ASET DAERAH DAN SEJARAH YANG TAK TERNILAI HARGANYA...

NAMUN KURANG TERAWATNYA....

Anda peduli...?

Saran dan Kritik Kami terima dengan senang hati...